Pelestari Budaya Tari di Solo

1. Sekolah Menengah Kejuruan VIII dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Pendidikan Formal yang mempelajari tari gaya Surakarta adalah Sekolah Menengah Kejuruan VIII (SMK VIII, dulu KOKAR, berubah menjadi Sekolah Menengah Kesenian Indonesia) dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). SMK VIII menekankan pembelajarannya pada bidang seni karawitan, musik, pedalangan dan tari. Bidang seni tari, pembelajarannya difokuskan pada tari gaya Surakarta dan untuk melengkapi pengetahuan serta pengalaman berkesenian, para siswa mendapat juga pembelajaran tari daerah lain seperti tari Bali, tari Sunda dan tari Yogyakarta. STSI Surakarta adalah perkembangan dari ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) yang berdiri sejak tahun 1964. Bidang seni tari baru diadakan pada tahun 1977, dan kini menjadi bidang yang lebih diminati dibanding dengan bidang lain—jumlah mahasiswa Jurusan Seni Tari lebih banyak daripada jurusan lainnya. Mata kuliah tari gaya Surakarta merupakan mata kuliah mayor dan merupakan mata kuliah wajib.

2. Sanggar-sanggar Tari Pendidikan tari non-formal dilakukan lewat sanggar-sanggar di antaranya: 2.2.2.2.1. Sanggar Tari Yayasan Kembang Setaman Sanggar tari ini didirikan oleh Suhartini Sri Hastanto pada tahun 1993 di Kentingan-Surakarta. Pada mulanya kegiatan latihan berpusat di Kentingan (Jebres, Surakarta), kemudian berkembang di Tegalsari, Karanganyar dan di Kelurahan Mojosongo. Kini kegiatannya hanya dilakukan di Tegalsari-Karanganyar saja. Ketua sanggarnya adalah Nanik Sri Prihatini, S.Kar., M.Si. Jumlah siswa sebanyak 60 orang dan pelatih sebanyak 8 orang (semua alumni STSI Surakarta). Tari yang diajarkan adalah tari gaya Surakarta. 2. Sanggar Tari Metta Budaya Sanggar Tari Metta Budaya didirikan oleh sekelompok lulusan STSI Surakarta pada tahun 1989. Semula bertempat di Prangwedanan Mangkunegaran dan sekarang di Joglo Sri Wedari Surakarta. Sanggar ini diketuai oleh Joko Naryato, S. Sen. Jumlah siswa saat ini 466 orang dan jumlah pelatih 10 orang (semua alumni STSI Surakarta). Materi tari yang diajarkan kepada anak didiknya adalah tari gaya Surakarta.

3. Sanggar Tari Soerya Sumirat Sanggar ini didirikan pada tahun 1992 atas ide dari GPH Herwasta Kusuma bertempat di Prangwedanan Mangkunegaran dengan Ketua Pelaksana Harian Th. Sri Kurniati, S.Sen. Sanggar ini berkembang dengan pesat karena memiliki tempat latihan yang strategis, di pusat kota. Siswa yang belajar tari di sanggar ini berjumlah 330 orang yang terdiri dari siswa TK, SD, SLTP, SLTA, dan mahasiswa dengan pelatih berjumlah 8 orang yang sebagian besar alumni STSI Surakarta. Latihan dilakukan 2 kali seminggu selama 2 jam dan evaluasi dilakukan setiap 4 bulan. Dana didapat dari donatur dan iuran siswa.

4. Sanggar Tari Sarotomo Sanggar ini didirikan pada tahun 1983 oleh Mujiono, S. Kar. Kegiatan sanggar ini tidak hanya tari saja tetapi juga karawitan dan pedalangan. Jumlah siswa yang belajar sebanyak 68 orang dengan 7 orang pelatih (semua alumnus STSI Surakarta). Selain materi tari gaya Surakarta juga sering diberikan materi dolanan anak-anak. Sumber dana untuk membiayai kegiatannya didapat dari iuran anak-anak.

5. Sanggar Tari Semarak Candra Kirana Didirikan pada 31 Juli 1998 oleh Dra. Irawati Kusumosari dan Wahyu Santoso Prabowo, S. Kar, M.S. bertempat di Jalan Supomo no.7 Surakarta. Latihan tari dilakukan di Kusuma Sahid Hotel dan di sanggarnya, Jalan Supomo. Siswanya berjumlah 140 orang dengan pelatih 3 orang (semua alumni STSI Surakarta). Sumber dana didapat dari iuran siswa.

6. Sanggar Tari Pawiyatan Budaya Keraton Surakarta. Berdiri pada tahun 1930, akan tetapi sejak tahun 1972 mengalami penurunan aktivitas karena para empu-nya meninggal dunia. Tahun 1996 diaktifkan lagi oleh G. R. A. Koes Murtiyah dan pada tahun 1998, kegiatannya dipusatkan di Bangsal Smarakata di komplek Keraton Kasunanan Surakarta. Jumlah siswa 125 orang dengan 5 orang pelatih. Para siswa tidak dipungut iuran dan semua biaya disubsidi oleh Keraton Surakarta. Materi tari yang diajarkan adalah tari gaya Surakarta, termasuk Tari Bedaya dan Srimpi.

7. Sanggar Tari Sang Rama Sanggar tari ini didirikan oleh Sidik Suradi, S.Sen. bertempat di Jalan kahuripan No. 27 Sumber-Surakarta. Jumlah siswanya sebanyak 43 orang dengan 4 orang pelatih (lulusan dan mahasiswa STSI Surakarta). Kegiatan latihannya dilakukan 2 kali seminggu dan evaluasi dilakuksan setiap 4 bulan. Materi tarinya menekankan pada tari gaya Surakarta.

8. Sanggar Tari Among Beksa Sanggar ini didirikan oleh Nanik Sri Sumantri, S.Kar., M.Hum. pada tahun 1996 di Kentingan, Jebres. Pada mulanya latihan dilakukan di S.D. Bulukantil, Kentingan, namun kemudian pindah ke lingkungan gereja Purbawardayan, Surakarta. Jumlah siswanya sekitar 40 orang dengan 3 orang pelatih (alumni STSI Surakarta).

9. Sanggar Tari Eka Santi Budaya Didirikan pada tahun 1996 bertempat di Radio Siaran Niaga PTPN Rasitania, Surakarta. Sanggar ini dikelola oleh manager Radio PTPN Surakarta. Siswanya berjumlah 122 orang anak dengan 4 orang pelatih (alumni ASTI Yogyakarta). Materi tari yang diberikan ialah tari gaya Surakarta dan tari daerah lain (Bali, Sunda ) dan tari kreasi Baru. Sumber dana didapat dari iuran para siswa.

10 Sanggar Tari Perkumpulan Masyarakat Surakarta Sanggar tari ini didirikan pada tahun 1972 di Gedung Gajah Surakarta. Para siswanya sebagian besar keturunan Cina namun mereka mempelajari tari gaya Surakarta dan kadang-kadang tari kreasi baru. Jumlah siswanya kurang-lebih 50 orang dengan 3 orang pelatih. Dana untuk membiayai sanggar ini didapat dari donatur dan iuran siswa.

11 Sanggar Tari Arena Langen Budaya Sanggar tari ini didirikan oleh S. Witoyo pada tahun 1985 di kampung Sidomukti, Laweyan, Surakarta. Siswanya berjumlah 54 orang anak dengan 4 orang pelatih (alumni SMKI dan STSI Surakarta). Materi tari yang diberikan ialah tari gaya Surakarta. Sumber dana didapat dari iuran para siswa.

12 Sanggar Tari Pagutri Sanggar tari ini didirikan oleh sekelompok guru-guru tari Sekolah Dasar di Surakarta pada tahun 1995. Diketuai oleh S. Priyadi dan beralamat di Jalan Panjatian No. 9 Surakarta. Sanggar tari ini dimaksudkan untuk menampung minat dan bakat anak-anak yang menonjol dalam bidang tari. Anak-anak tersebut dibina secara intensif untuk mengikuti lomba tari. Jumlah siswanya sebanyak 15 orang dengan 4 orang pelatih (alumni SMKI dan STSI Surakarta). Latihan dilakukan di S.D. Balapan, Surakarta, dengan iuran Rp. 1000 setiap kali latihan.

13 Sanggar Tari MGMP Didirikan oleh sekelompok guru tari Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Surakarta. Sekarang diketuai oleh Retno Lesnarning. Sanggar ini, di samping untuk latihan para siswa juga dipakai untuk latihan bersama para guru.

14 Sanggar Tari Sarwi Budaya Didirikan oleh Sarwiyati Hartono pada tahun 1974. Kegiatan latihan dilakukan di Djogoprajan, Surakarta. Jumlah siswanya sebanyak 76 orang anak dengan 4 orang pelatih (alumni STSI Surakarta). Latihan dilakukan 2 kali dalam seminggu dan evaluasi dilakukan setiap 4 bulan. Sumber dana didapat dari iuran siswa. Setiap siswa dipungut iuran Rp. 3.000. 15 Sanggar Tari Pariwita Didirikan oleh Purwani pada tahun 1998. Kegiatan latihan dilakukan di kediamannya, Jl. Natadiningratan, Surakarta. Sanggar ini tidak mengadakan latihan secara rutin. Latihan hanya dilakukan apabila ada rencana pentas. Pelatih tarinya didatangkan dari STSI Surakarta. Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa para pembina dan pengelola sanggar-sanggar tari tersebut adalah alumni STSI Surakarta. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika materi tari yang diberikan cenderung mendapat pengaruh dari gaya tari yang dikembangkan STSI Surakarta. Sanggar-sanggar tari tersebut menekankan kegiatannya pada pelatihan tari anak-anak dan materi tari yang diajarkan biasanya disesuaikan dengan tingkatan umurnya. Tarian yang diajarkan terbagi atas tari untuk putri dan putra. Untuk tari putri antara lain: tari Pangpung, tari Bathik, tari Manipuri, tari Kupu-kupu, tari Soyong, tari Kidang, tari Golek Mugi Rahayu, tari Golek Manis, tari Bondan Kendhi, dan tari Bondhan Tani. Tarian untuk putra antara lain: tari Kelinci, tari Kudha-kudha, tari Lutung, dan tari Wanara. Sedangkan tari Menak Koncar dan tari Gunungsari bisa untuk putra-putri. Sanggar-sanggar itu pada umumnya mendapatkan dana dari iuran para siswa yang jumlahnya berkisar antara Rp. 2.000 s/d Rp. 8.000 perbulan. Sanggar-sanggar tersebut kadang-kadang juga mengadakan pentas atas permintaan masyarakat yang punya kenduri.

Di Surakarta, terdapat juga kelompok dan tempat kreativitas (penggarapan/penciptaan) tari baik tradisional maupun modern, antara lain: Padepokan Sono Seni Kemlayan; Padepokan Lemah Putih Mojosongo; Mugiyono Dance Company, Solo Dance Company, Studi Taksu dan Studio Sahita. Sanggar-sanggar tari di luar Surakarta juga berkembang dengan baik dan pada umumnya masih menjadikan tari gaya Surakarta sebagai materi pokoknya. Misalnya, di Karanganyar terdapat Sanggar Tari Krisna Budaya; di Sukoharjo terdapat Sanggar Tari Santi Budaya, Asri Budaya, Sekar Santi Budaya dan Iyan Wahyuning Budaya; di Blora terdapat Sanggar Tari Patria Ria, Krido Lestari, Adya Gurita dan Kembang Sore; di Kudus terdapat Sanggar tari Puring Sari; di Purbalingga terdapat Sanggar Tari Citra Budaya dan Citra Pertiwi; di Purwakerto terdapat Sanggar Tari Dharmo Yuwono, Satria Budaya, Barata Ajibarang dan Sekar Wilis; di Cilacap terdapat Sanggar Tari Kusuma, Giyon Lakchita dan Krida Kusuma; di Pemalang terdapat Sanggar Tari Pertiwi, Serimpi dan Handayani dan di Semarang terdapat Sanggar Tari Lindu Panon, Greget dan Yasa Budaya. Tari gaya Surakarta (terutama gaya STSI) sering dipertunjukkan dalam acara hajat pernikahan dan untuk pertunjukan wisata, terutama di Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Akan tetapi pada waktu dua tahun terakhir ini frekuensi pertunjukan tari gaya

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: